Sabtu, 21 Mei 2016

Seikat Maaf dan Terima Kasihku Untukmu

Teruntuk Kamandanu, Sebelumnya aku ingin memohon maaf atas kelancangan memulangkanmu kembali pada tulisaku tanpa lebih dulu meminta izin kepadamu. Karena aku terlalu pecundang untuk sekedar menanyaimu kabar atau meminta sebuah perjumpaan. Maka pagi ini aku mengumpulkan segenap keberanian untuk menulis segalanya yang belakangan terasasedikit mengganggu. Entah terbaca atau tidak olehmu, setidaknya sedikit dari yang memenuhi hati akan aku keluarkan lewat ini. Selain itu, aku juga inginmemohon maaf jika hatimu tidak berkenan akan surat yang aku kirimkan melalui media social. Sebab aku tidak punya merpati yang bisa membawa selembar suratku ke tepi jendela kamarmu, seperti yang ada dalam dongeng-dongeng kerajaan. Sejak takdir menghadiahiku sebuah pertemuan dengan kamu beberapa bulan yang lalu. Aku belum pernah sedikitpun lupa akan apa yang telah kita lewati bersama. Sebelumnya, dulu aku tidak pernah mengira bahwa kamu akan semelekat ini di ingatanku. Tapi rupanya takdir berkehendak lain, dan membuat segalamu belum bisa digantikan orang lain. Aku juga tidak pernah menyangka, bahwa kamu adalah orang yang bisa menggantikan dia yang selama ini ada dalam tulisan-tulisanku. Aku juga tidak pernah menyangka bahwa kamu telah mencipta debar di dada kiriku, setelah sebelumnya sempat mati oleh kepergian seseorang yang aku cintai. Entah sejak kapan debar itu mulai tumbuh pada pertemanan yang baru saja kita rengkuh. Apa pepatah jawa yang mengatakan “witing tresno jalaran soko kulino”itu benar adanya? Apa debar ini hanya sementara karena aku terbawa oleh suasana? Ah. Semua tanda tanya akan pertanyaan itu selalu melahirkan ragu dan ketakutan untuk mengakui apa benar bahwa hatiku telah jatuh kepadamu?. Sedang bersama debar yang mulai ku rasakan itu, ada seklumit ketakutan yang juga kerap memenuhi hatiku. Yakni ketakutan akan harapanku atas kamu yang semakin tumbuh subur di hatiku. Itulah kenapa belakangan ini aku memilih untuk membangun tembok antara aku dankamu. Andai kamu tahu mas…? Pada punggungmu yang perlahan samar oleh kepergianmu, selalu ada rindu yang jatuh di mataku. Juga selalu ada semoga akan kamu untuk kembali menatapku. Soal kepergianmu itu…rasanya terlalu tidak adil, jika aku sepenuhnya menyalahkanmu. Karena bagaimanapun, aku juga memiliki andil atas keputusan yang akhirnya kamu buat. Tapi, apa gunanya penyesalanku? Toh semua itu tidak akan merubah keadan yang sudah terlanjur aku buat berantakan bukan? Kamu benar mas, bahwa “waktu tidak akan pernah mundur”. Ya, aku cukup tahu akan hal itu. Karena se-membiru apapun sebuah rindu, jarum jam tidak akan pernah berputar mundur hanya untuk membawaku ke masa lalu. Jadi, biar penyesalanku ini menjadi urusanku sendiri, dan kamu…kamu silahkan jika ingin memilih meneruskan melangkahkan kaki. Sebab aku tidak memiliki hak untuk memintamu jangan pergi. Dan sebelum surat ini aku akhiri, ada satu hal yang perlu kamu tahu mas.Sekeras apa aku telah mencoba melupa, dan setinggi apa tembok yang sedang berusaha kucipta, segalamu masih sanggat lekat di kepala. Sekali lagi aku ingin memohon maaf atas aku yang tak pandai melupa. dan terima kasih sudah pernah hadir dan menyuguhiku bahagia. Bumi Kartini, 21 Mei 2016. Meilina Kumala Hadi.