Jumat, 16 Oktober 2020

Untuk Tsana

Hai Tsan, Kamu pernah gak merasa begitu merindukan seseorang, tapi benar-benar gak bisa bilang. Padahal orangnya masih hidup dan kamu juga bisa kirim chat via wattsap. Tapi kamu memilih untuk diam dan menahan semuanya sendirian. Ya.. karena...

Karena kamu merasa meskipun kamu bilang, semua juga akan sama. Kamu tidak tahu dia akan menghadiahimu temu atau justru malah mengabaikanmu.
Sangking aku gak tahu harus bagaimana Tsan. Akhirnya aku memutuskan untuk cerita ke kamu.

Namanya Taurus Tsan. Iya. Si taurus yg super cuek dan dingin. Aku mengenalnya sekitar akhir tahun 2013 atau awal 2014 yg lalu. Sudah terlalu lama memang untuk mengingat dengan jelas tahun pertama kita bertemu. Yang aku ingat cuma cara semesta mempertemukan kita dengan begitu manis.

Pagi itu di bus kota saat aku hendak berangkat ke kampus. Di pintu bagian belakang, aku melihat pria tinggi berjenggot tipis di antara sesaknya penumpang. Aku tersenyum ke arahnya, mengingat wajahnya yg tidak begitu asing di mataku. Awalnya dia memang pria asing yg sebelumnya sempat ku lihat beberapa hari yg lalu di kelas. Entah mahasiswa smester berapa? kenapa aku baru melihatnya sekarang.

Sudah setengah perjalanan aku berada di dalam bus yg masih sesak itu Tsan. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang, aku menoleh dan dia mengarahkan tangannya ke bangku penumpang yg sudah kosong. Taurus mempersilahkanku untuk duduk dan dia memilih untuk tetap berdiri di antara penumpang lain. Kita tidak banyak mengobrol, karena aku tipikal perempuan yg pendiam jika dg orang baru. Sampai akhirnya kita sampai di halte kampus, dan aku memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Ternyata dia mahasiswa pindahan Tsan, pantas saja aku baru melihatnya. Dan sepertinya smester dia jauh di atasku.

Setelah kejadian itu. Beberapa kali aku melihat si Taurus ikut kelas ku, aku pun mulai tahu namanya, dan beberapa kali juga kita hampir sering bertemu secara tidak sengaja saat berangkat ataupun pulang kuliah. Dan entah kapan tepatnya aku tidak tahu, perasaan tertarik kepadanya mulai tumbuh Tsan. Hingga pada suatu hari aku tidak sengaja menemukan akun twitter miliknya, dan memutuskan untuk memfollow.

Kita mulai sering mereplay twitt masing-masing Tsan. Dia selalu terlihat lucu dg lelucon-lelucon miliknya, dan rasanya rame jika sedang bercanda dengannya meskipun lewat teks. Berbeda dg saat kita bertatap muka di kampus. Dia terlihat irit bicara, bahkan kita seperti tidak saling kenal. Ya mungkin karena aku juga terlihat cuek. Oh iya, Tsann. Aku dan dia sama-sama taurus. Kamu tahu kan bagaimana sok dinginnya taurus padahal sebenarnya perduli, dan juga gengsiannya taurus?

Tahun berganti Tsan, sampai akhirnya sejak 2015 sampai sekarang aku tidak lagi melihatnya. Tapi kita masih tetap saling berkomunikasi di twitter.
Dan pada Februari 2018 lalu, aku mengetahui kabar bahwa dia baru saja kehilangan perempuan yg sangat dia cintai. Dia kehilangan Ibunya Tsan, satu-satunya orang tua yg dia punya. Entah kenapa kabar itu juga membuat hatiku ikut patah. Rasanya sakit dan tidak bisa ku jelaskan Tsan. Yang bisa kulakukan hanya berusaha menghiburnya dg sebatas mengirim pesan teks di sosial media saja. Tsan? Apa perasaan ini wajar? Bertemu dengannya saja sudah tidak pernah. Tapi perasaanku kian hari makin bertambah, dan aku tahu itu salah.

Tahun lalu aku sempat memutuskan untuk menjain hubungan dg seseorang yg bisa ku temui setiap hari. Namun hubungan yg baru sebentar itu ternyata harus berakhir. Lagi-lagi aku gagal Tsan. Aku gagal membina hubungan yang nyata ada.
Hingga pada akhir Februari tahun 2020 ini, untuk pertama kali aku harus merasakan jarum infus. Genap satu minggu aku harus terbaring di rumah sakit karena kondisi kesehatanku yang benar-benar drop. Dari tempat yang bahkan aku tidak tahu dia dimana sekarang, si Taurus tetap memberiku semangat Tsan, bahkan dia mengirimkan paket dua kotak susu kesehatan yg saat itu kubutuhkan. Anehnya, dia tahu detail alamat rumahku tanpa bertanya, atau mungkin aku yg lupa pernah tidak sengaja memberitahunya. Entahlah Tsan, bagiku itu hal termanis yg pernah ku dapatkan. Bahkan saat seseorang yg baru hitungan bulan sudah tidak lagi menjadi kekasihku saja tidak bertanya kabar ataupun menjengguk untuk sekedar tahu keadaanku. Tapi Taurus tetap begitu baik kepadaku meski sudah betahun-tahun kita tidak lagi bertemu.

Tsana, sejak saat itu, aku mulai sadar. Keinginanku akan keberadaanya makin besar. Tapi kebenarannya dia masih tidak nyata. Dan itu membuatku tidak tahu harus bagaimana. Apa mungkin melepaskannya akan melegakan? Sebab jika harus menunggu, bukankah aku harus punya batas waktu?