Minggu, 07 September 2014

Sajakku Patah



Sajakku Patah

Sejak kau patahkan penaku saat senja mulai memerah, sejak saat itu aku tak lagi mampu menggoreskan puisi pada lembar kertasku. Semuanya seolaah berubah menjadi hitam, dan kini setiap senja tiba aku tak mampu melihat aksara pada dinding jingga seperti dulu. Sekuat apapun aku mencoba menggoreskan pena, aku tetap saja tak mampu melahirkan sebait sajak untuk senja. Terkadang aku ingin marah, kenapa kau dulu tega mematahkan pena pemberianmu begitu saja. Apa saat itu kau sebenci itu padaku? Atau karena kau sudah bosan dengan sajak-sajakku? Entahlah, aku tak pernah mempunyai keberanian untuk menanyakan hal itu padamu.
Mulai saat itu, aku tak lagi bisa menulis tentang senja, bahkan terkadang kebencian sedikit meracuni otakku, hingga aku memutuskan untuk menghapus senja dari daftar sajakku dan menggantikannya dengan hujan. Tetapi apa kau tahu? Semua itu tak bertahan lama, karena hujan tak bisa mengajariku tentang arti keikhlasan seperti halnya senja yang selalu mengajariku untuk ikhlas menerima kepergian surya. Meski kini aku tak lagi mampu menuliskan sajak pada dinding-dinding senja, tetap saja aku tak bisa menghapus semua kenangan kita dulu. Puisi-puisi yang kita tulis bersama saat senja, sajak cinta yang kau lantunkan sebelum malam tiba, serta sepotong sajak yang mengakhiri pertemuan kita sebelum akhirnya kau mematahkan penaku. Semua hal itu  sampai sekarang masih kusimpan di sudut meja kamarku, dengan harapan angin akan menerbangkannya dan membawanya pergi dari hidupku tanpa harus aku membuangnya sendiri dengan tanganku. Karna bagaimanapun semua itu adalah bagian dari masa lalu yang tak berhak aku hilangkan, dan hanya Tuhan lah yang berhak melakukannya untukku.

Bumi Kartini, 12 Agustus 2014