Sajakku
Patah
Sejak
kau patahkan penaku saat senja mulai memerah, sejak saat itu aku tak lagi mampu
menggoreskan puisi pada lembar kertasku. Semuanya seolaah berubah menjadi
hitam, dan kini setiap senja tiba aku tak mampu melihat aksara pada dinding jingga
seperti dulu. Sekuat apapun aku mencoba menggoreskan pena, aku tetap saja tak
mampu melahirkan sebait sajak untuk senja. Terkadang aku ingin marah, kenapa
kau dulu tega mematahkan pena pemberianmu begitu saja. Apa saat itu kau sebenci
itu padaku? Atau karena kau sudah bosan dengan sajak-sajakku? Entahlah, aku tak
pernah mempunyai keberanian untuk menanyakan hal itu padamu.
Mulai
saat itu, aku tak lagi bisa menulis tentang senja, bahkan terkadang kebencian
sedikit meracuni otakku, hingga aku memutuskan untuk menghapus senja dari
daftar sajakku dan menggantikannya dengan hujan. Tetapi apa kau tahu? Semua itu
tak bertahan lama, karena hujan tak bisa mengajariku tentang arti keikhlasan
seperti halnya senja yang selalu mengajariku untuk ikhlas menerima kepergian
surya. Meski kini aku tak lagi mampu menuliskan sajak pada dinding-dinding
senja, tetap saja aku tak bisa menghapus semua kenangan kita dulu. Puisi-puisi
yang kita tulis bersama saat senja, sajak cinta yang kau lantunkan sebelum
malam tiba, serta sepotong sajak yang mengakhiri pertemuan kita sebelum akhirnya
kau mematahkan penaku. Semua hal itu sampai sekarang masih kusimpan di sudut meja
kamarku, dengan harapan angin akan menerbangkannya dan membawanya pergi dari
hidupku tanpa harus aku membuangnya sendiri dengan tanganku. Karna bagaimanapun
semua itu adalah bagian dari masa lalu yang tak berhak aku hilangkan, dan hanya
Tuhan lah yang berhak melakukannya untukku.
Bumi Kartini, 12 Agustus 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar