Detak
Retak
Bersama
hujan pagi ini, aku kembali menyeduh kenangan. Menikmati tiap aromanya yang
hambar, serupa rindu tanpa temu. Kini diantara gemercik hujan, aku melihat kembali
lorong sepi tempatmu mengucap perpisahan, hingga angin ikut menyanyikan simponi
kehilangan dan pada akhirnya air mata ikut bertepuk tangan. Lihatlah, aku masih
menjadi pecundang yang tak mampu menolak saat kenangan kembali datang.
Aku
menggerti bahwa kehilangan sama sekali tak mengajariku tentang melupakan, karena
Ia hanya membawa detak retak yang melekat tanpa sekat. Maka itulah kenapa aku
memilih waktu untuk merapikan apa yang telah diberantakan oleh perpisahan.
Meski waktu tidak bisa menyembuhkan, tapi setidaknya waktu mampu merapikan luka
yang berantakan. Dan aku percaya setiap takdir memiliki alasan, meski hanya
pemberi takdir yang tahu pasti apa alasan di balik takdir yang harus aku
jalankan.
Saat ini mungkin Tuhan sedang mengajariku
untuk memaafkan, setelah dulu kau membuat separuh hatiku kehilangan detak dan
menjadi retak. Meski terkadang masih terasa ngilu saat detak retak itu
bercampur dengan rindu, tapi aku akan berusaha mengais maaf untukmu. Karena
senja selalu mengajarkan padaku tentang menerima perpisahan di setiap
pertemuan.
Kini
tepat dua tahun setelah kehilangan kita dekap, kau kembali mengetuk pintu
rumahku yang masih terasa pengap. Entah harus bahagia atau bersedih, saat ini
aku sama sekali tidak mengerti harus memberi perintah apa kepada perasaanku
sendiri. Setelah kau pergi tanpa melihat ke arahku, haruskah kini aku
mengucapkan selamat datang dan menyambutmu? Entahlah, bahkan untuk menyuruhmu
masuk atau sekedar mengusirmu aku tak mampu melakukan itu. Aku terlalu takut
jika kau kembali memberantakkan luka yang telah berusaha untuk aku rapikan.
Mungkin memang benar kau serupa senja untukku, yang datang dengan penuh cahaya
indah dan pergi dengan meninggalkan malam yang gelap.