Rabu, 25 Februari 2015

di Senja yang ke-Sekian



di Senja yang ke-Sekian

Mungkin aksaraku hampir habis untuk bercerita kepada senja tentang kepergianmu, tapi sebelum itu terjadi, biarlah aku terus menumpahkan aksaraku pada dinding jingga setiap harinya. Aku tahu semua itu tidak akan pernah bisa mengembalikanmu, tapi setidaknya aku mampu merasakan kehadiranmu lewat bait-bait puisiku.
Bagiku, senja adalah jalan pulang rindu. Dimana kita bisa merapalkan doa-doa kita di langit yang sama. Dan aku harap kau masih senantiasa mendoakan gadis yang dulu pernah menemanimu meski hanya satu purnama. Keinginanku itu mungkin terlalu berlebihan, karena bagaimanapun kau juga manusia yang memiliki perasaan kecewa dengan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.
Akulah gadis yang pernah melukai perasaanmu dan rasanya tak akan pantas jika aku masih mengharapkan doa darimu. Karena bagaimanapun aku menyesalinnya, aku tetap tidak akan bisa memperbaiki luka seseorang, termasuk luka yang pernah aku buat untukmu.
Kini untuk kesekian kalinya, senja kembali mendengarkan ceritaku. Aku selalu mengatakan padanya bahwa aku iri terhadap orang yang mampu dengan mudah mengungkapkan perasaannya kepada orang yang dicintainnya. Aku pun juga selalu mengatakan pada senja kenapa aku tak pernah memiliki keberanian seperti itu dan selalu memilih menyembunyikan perasaanku. Mungkin jika dulu aku tak sebodoh itu dan memiliki keberanian untuk menahanmu, aku pasti tak secepat itu kehilanganmu.
Kebersamaan kita yang terlalu singkat, terkadang membuatku sering tak percaya bahwa aku pernah benar-benar memiliki dan kehilanganmu. Takdir itu terlalu sebentar, bahkan aku belum sempat membahagiakanmu. Kini… aku masih menjadi pecundang yang tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan rindu dan memilih bersembunyi dibalik benci yang kuciptakan sendiri. semoga kelak suatu saat nanti senja memberitahumu, bahwa aku tak pernah benar-benar membencimu, bahwa aku tak pernah benar-benar ingin kau pergi dan menjauhiku.

Mhey

Tidak ada komentar:

Posting Komentar