di Senja yang
ke-Sekian
Mungkin
aksaraku hampir habis untuk bercerita kepada senja tentang kepergianmu, tapi
sebelum itu terjadi, biarlah aku terus menumpahkan aksaraku pada dinding jingga
setiap harinya. Aku tahu semua itu tidak akan pernah bisa mengembalikanmu, tapi
setidaknya aku mampu merasakan kehadiranmu lewat bait-bait puisiku.
Bagiku,
senja adalah jalan pulang rindu. Dimana kita bisa merapalkan doa-doa kita di langit
yang sama. Dan aku harap kau masih senantiasa mendoakan gadis yang dulu pernah
menemanimu meski hanya satu purnama. Keinginanku itu mungkin terlalu
berlebihan, karena bagaimanapun kau juga manusia yang memiliki perasaan kecewa
dengan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.
Akulah
gadis yang pernah melukai perasaanmu dan rasanya tak akan pantas jika aku masih
mengharapkan doa darimu. Karena bagaimanapun aku menyesalinnya, aku tetap tidak
akan bisa memperbaiki luka seseorang, termasuk luka yang pernah aku buat
untukmu.
Kini
untuk kesekian kalinya, senja kembali mendengarkan ceritaku. Aku selalu
mengatakan padanya bahwa aku iri terhadap orang yang mampu dengan mudah
mengungkapkan perasaannya kepada orang yang dicintainnya. Aku pun juga selalu
mengatakan pada senja kenapa aku tak pernah memiliki keberanian seperti itu dan
selalu memilih menyembunyikan perasaanku. Mungkin jika dulu aku tak sebodoh itu
dan memiliki keberanian untuk menahanmu, aku pasti tak secepat itu
kehilanganmu.
Kebersamaan
kita yang terlalu singkat, terkadang membuatku sering tak percaya bahwa aku
pernah benar-benar memiliki dan kehilanganmu. Takdir itu terlalu sebentar,
bahkan aku belum sempat membahagiakanmu. Kini… aku masih menjadi pecundang yang
tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan rindu dan memilih bersembunyi
dibalik benci yang kuciptakan sendiri. semoga kelak suatu saat nanti senja
memberitahumu, bahwa aku tak pernah benar-benar membencimu, bahwa aku tak pernah
benar-benar ingin kau pergi dan menjauhiku.
Mhey
Tidak ada komentar:
Posting Komentar