Senin, 15 Desember 2014

Harapan Senja


Harapan Senja

Ketika jingga perlahan menjadi gulita
Namamu tertata pada bait doa penghujung senja
Terukir diantara sujudku kepada-Nya…
Dalam alunan dzikir yang bersahaja

Entah berapa senja lagi aku harus menunggumu tiba
Hingga takdir mempertemukan kita
Untuk dapat bersama menikmati sisa usia

Duhai patahan rusukku yang jauh di sana…
Semoga kau mendengarnya
Bahwa aku menunggumu dalam mihrab cinta

Bumi Kartini, Oktober 2014
Meilina Kumala Hadi


Minggu, 07 September 2014

Sajakku Patah



Sajakku Patah

Sejak kau patahkan penaku saat senja mulai memerah, sejak saat itu aku tak lagi mampu menggoreskan puisi pada lembar kertasku. Semuanya seolaah berubah menjadi hitam, dan kini setiap senja tiba aku tak mampu melihat aksara pada dinding jingga seperti dulu. Sekuat apapun aku mencoba menggoreskan pena, aku tetap saja tak mampu melahirkan sebait sajak untuk senja. Terkadang aku ingin marah, kenapa kau dulu tega mematahkan pena pemberianmu begitu saja. Apa saat itu kau sebenci itu padaku? Atau karena kau sudah bosan dengan sajak-sajakku? Entahlah, aku tak pernah mempunyai keberanian untuk menanyakan hal itu padamu.
Mulai saat itu, aku tak lagi bisa menulis tentang senja, bahkan terkadang kebencian sedikit meracuni otakku, hingga aku memutuskan untuk menghapus senja dari daftar sajakku dan menggantikannya dengan hujan. Tetapi apa kau tahu? Semua itu tak bertahan lama, karena hujan tak bisa mengajariku tentang arti keikhlasan seperti halnya senja yang selalu mengajariku untuk ikhlas menerima kepergian surya. Meski kini aku tak lagi mampu menuliskan sajak pada dinding-dinding senja, tetap saja aku tak bisa menghapus semua kenangan kita dulu. Puisi-puisi yang kita tulis bersama saat senja, sajak cinta yang kau lantunkan sebelum malam tiba, serta sepotong sajak yang mengakhiri pertemuan kita sebelum akhirnya kau mematahkan penaku. Semua hal itu  sampai sekarang masih kusimpan di sudut meja kamarku, dengan harapan angin akan menerbangkannya dan membawanya pergi dari hidupku tanpa harus aku membuangnya sendiri dengan tanganku. Karna bagaimanapun semua itu adalah bagian dari masa lalu yang tak berhak aku hilangkan, dan hanya Tuhan lah yang berhak melakukannya untukku.

Bumi Kartini, 12 Agustus 2014

Minggu, 17 Agustus 2014

Pentingnya Fungsi Keluarga dalam Mencegah atau Meminimalisir Perilaku Menyimpang pada Anak



Oleh: Meilina Kumala Hadi
Keluarga merupakan salah satu kelompok sosial yang memiliki peran penting dalam masyarakat, keluarga juga memiliki andil yang cukup besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, lewat keluargalah kepribadian seorang anak terbentuk. Beberapa ahli psikologi juga berpendapat bahwa perilaku anak muncul dari bagaimana pola asuh atau  cara orang tua mendidik anaknya sejak dini.
Pada kajian sosiologi, keluarga menjadi media sosialisasi awal terhadap anak untuk mengenal lingkungannya, dalam hal ini orang tua bertugas untuk memberikan perhatian serta mendidik anak untuk memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang baik dan benar. Karena dalam lingkungan keluarga itulah anak pertama kali mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan sehari-hari sebelum pada akhirnya mereka terjun langsung ke dalam masyarakat.
Sebagaimana kita tahu, dalam bermasyarakat tentunya tidak terlepas dari yang namanya konflik sosial ataupun perilaku yang menyimpang. Adapun perilaku menyimpang itu sendiri ialah suatu perilaku yang diekspresikan oleh seseorang atau beberapa orang anggota masyarakat, yang disadari atau tidak telah menyimpang dari norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Perilaku menyimpang ini ditimbulkan karena adanya proses sosialisasi yang tidak sempurna.
Pada dasarnya, sosialisasi yang tidak sempurna bisa terjadi karena beberapa hal, diantaranya adalah kurangnya memahami nilai dan norma yang dipelajari, dan tidak sempurnanya proses sosialisasi dalam keluarga, yang dimaksud dalam hal ini adalah ketika sebuah keluarga tidak lagi lengkap manakala salah satu anggota keluarga atau kedua orang tua sudah meninggal dunia ataupun bercerai. Dengan demikian proses sosialisasi dalam keluarga tersebut akan menjadi tidak sempurna, dengan kata lain keluarga sangatlah berperan penting terhadap sosialisasi anak agar dapat memahami nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Melihat apa yang telah dipaparkan diatas, dapat dikatakan keluarga mempunyai peran vital dalam mencegah atau meminimalisir anak untuk berprilaku menyimpang. Keluarga yang mampu memberikan polaa asuh yang tepat terhadap anak, tentunya sksn menghasilkan proses sosialisasi yang sempurna. Sehingga anak tersebut dapat terhindar dari perilaku menyimpang.
Dalam memberikan pola asuh yang tepat terhadap anak, kebijaksanaan orang tua sangatlah berpengaruh penting. Orang tua diharuskan mampu memilih kebijaksanaan yang akan diterapkan pada anaknya. Ada beberapa kebijaksanaan orang tua yang dianggap paling baik untuk menunjang proses sosialisasi anak, antara lain ialah mengusahakan agar anak selalu dekat dengan orang tuanya, memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar sehingga anak tidak merasa tertekan, memperlakukan anak dengan baik, menasihati anak jika melakukan kesalahan atau kekeliruan, serta menunjukan dan mengarahkan ke jalan yang benar, dan juga tidak mudah menjatuhkan hukuman kepada anak.
Dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut, diharapkan agar anak akan merasa diakui dan tidak merasa terkekang ataupun kurang diperhatikan oleh orang tuanya. Dengan begitu mereka akan mampu menyerap dan memahami nilai serta norma-norma sosial yang diajarkan dalam keluarga tanpa adanya keterpaksaan. Sehinga nantinya dalam masyarakat, mereka tidak mudah melakukan hal-hal yang menyimpang.

Fajar



Angin tak berdenting
Reranting pun tak bergeming
Sedang embun khusyuk berdzikir
Di altar malam yang mulai tersingkir
Subuh kembali patah
Air mata mulai tertumpah
Saat rindu belum sepenuhnya tertuju
Sedang waktu kian melaju
… kemuning fajar, aku masih ingin memelukmu …


2013, kepergian fajar
Mei kh







Tentang Perpisahan



 Sisa hujan masih terlihat menghias beberapa lembar dahan, begitupun dengan air mataku yang belum sepenuhnya menggering sejak pertemuan sore itu. Aku pikir  setelah pertemuan itu, semuanya akan membaik dan kerumitan-kerumitan yang sedang terjadi bisa sedikit terurai, agar aku tidak terus-menerus berjudi dengan perasaanku sendiri. tetapi kenyataan selalu tak seindah apa yang kita fikirkan, dan semua dugaanku  ternyata salah besar. Ya, semuanya hancur. Harapan serta cinta yang kumiliki telah dihancurkan olehnya.
Ada satu hal yang sampai sekarang tak pernah mampu aku mengerti, kenapa  perasaan manusia bisa dengan sekejap berubah tanpa tau apa penyebabnya. Seperti halnya cinta yang bisa sekejap hilang dari seseorang yang telah lama bersama kita. Anehnya lagi, perubahan itu seolah menjadi hal yang begitu ajaib, karena mampu menghancurkan harapan serta kehidupan seseorang dengan sekejap. Sama halnya dengan apa yang sedang terjadi padaku saat ini. Sejak dia memutuskan pergi tanpa alasan semuanya berubah menjadi remang, hingga terkadang aku tak tau harus kemana memandu kakiku untuk melangkah. Aku merasa dunia tak lagi mempunyai tempat untuk aku tuju, karna semua harapanku telah mati bersama perginya orang yang begitu aku cintai.
“ jika cintaku adalah bagaimana aku berbuat baik kepadamu. Maka jika aku tak lagi baik untukmu, izinkanlah aku pergi dari sisimu. “
Kalimat yang dia ucapkan waktu itu sampai sekarang masih belum bisa aku mengerti, bagaimana bisa dia semudah itu pergi dengan alasan sekonyol itu. Bukankah cinta adalah bagaimana kita belajar menjadi lebih baik untuk pasangan kita? Tapi kenapa dia semudah itu pergi hanya karna merasa tidak lagi baik untukku, sedang aku sendiri merasa dia masih menjadi seseorang yang cukup baik bagiku. Kenapa juga cinta harus terpisah hanya karna pendapat yang berbeda? Bukankah cinta seharusnya mampu menyatukan sebuah perbedaan? Entahlah, terkadang kepergian seseorang yang kita cintai dari hidup kita, membuat kita sulit untuk mengerti  sebuah perpisahan…

Bumi Kartini, 9 Agustus 2014

Minggu, 27 Juli 2014

di Pembaringan Malam

rintik gerimis di bawah cahaya bintang
lelehkan embun di sudut mata yang enggan hilang


buih-buih dingin mendidih...
di pembaringan malam,
aku datang wahai dalang kehidupan
tengadah adukan gundah
memintaMu lepaskan pasungan


...lapangkanlah...
...lapangkanlah....
...lapangkanlah.....


wahai Engkau yang ku sembah
jangan biarkan aku kalah




Jepara, Selepas Hujan 23 Oktober 2013
Meilina Kumala Hadi

Goresan Lelah

Bisu hingga membatu
Berdebu sampai layu...
Hitam hingga legam
Tersamar sampai pudar...

Pekat menyekat
Karat mengikat
Lelah tertumpah
Tertatih akan langkah

Bukan pasrah !
Karna Tuhan tak ajarkan menyerah
Bukan kalah !
Karna Tuhan kuatkan yang lemah

Laa haula walaa quwwata illa billah..



Bumi Kartini 11 Februari, 21:53
2014.
Meilina KH.