Rabu, 25 Februari 2015

Detak Retak



Detak Retak

Bersama hujan pagi ini, aku kembali menyeduh kenangan. Menikmati tiap aromanya yang hambar, serupa rindu tanpa temu. Kini diantara gemercik hujan, aku melihat kembali lorong sepi tempatmu mengucap perpisahan, hingga angin ikut menyanyikan simponi kehilangan dan pada akhirnya air mata ikut bertepuk tangan. Lihatlah, aku masih menjadi pecundang yang tak mampu menolak saat kenangan kembali datang.
Aku menggerti bahwa kehilangan sama sekali tak mengajariku tentang melupakan, karena Ia hanya membawa detak retak yang melekat tanpa sekat. Maka itulah kenapa aku memilih waktu untuk merapikan apa yang telah diberantakan oleh perpisahan. Meski waktu tidak bisa menyembuhkan, tapi setidaknya waktu mampu merapikan luka yang berantakan. Dan aku percaya setiap takdir memiliki alasan, meski hanya pemberi takdir yang tahu pasti apa alasan di balik takdir yang harus aku jalankan.
 Saat ini mungkin Tuhan sedang mengajariku untuk memaafkan, setelah dulu kau membuat separuh hatiku kehilangan detak dan menjadi retak. Meski terkadang masih terasa ngilu saat detak retak itu bercampur dengan rindu, tapi aku akan berusaha mengais maaf untukmu. Karena senja selalu mengajarkan padaku tentang menerima perpisahan di setiap pertemuan.
Kini tepat dua tahun setelah kehilangan kita dekap, kau kembali mengetuk pintu rumahku yang masih terasa pengap. Entah harus bahagia atau bersedih, saat ini aku sama sekali tidak mengerti harus memberi perintah apa kepada perasaanku sendiri. Setelah kau pergi tanpa melihat ke arahku, haruskah kini aku mengucapkan selamat datang dan menyambutmu? Entahlah, bahkan untuk menyuruhmu masuk atau sekedar mengusirmu aku tak mampu melakukan itu. Aku terlalu takut jika kau kembali memberantakkan luka yang telah berusaha untuk aku rapikan. Mungkin memang benar kau serupa senja untukku, yang datang dengan penuh cahaya indah dan pergi dengan meninggalkan malam yang gelap. 

di Senja yang ke-Sekian



di Senja yang ke-Sekian

Mungkin aksaraku hampir habis untuk bercerita kepada senja tentang kepergianmu, tapi sebelum itu terjadi, biarlah aku terus menumpahkan aksaraku pada dinding jingga setiap harinya. Aku tahu semua itu tidak akan pernah bisa mengembalikanmu, tapi setidaknya aku mampu merasakan kehadiranmu lewat bait-bait puisiku.
Bagiku, senja adalah jalan pulang rindu. Dimana kita bisa merapalkan doa-doa kita di langit yang sama. Dan aku harap kau masih senantiasa mendoakan gadis yang dulu pernah menemanimu meski hanya satu purnama. Keinginanku itu mungkin terlalu berlebihan, karena bagaimanapun kau juga manusia yang memiliki perasaan kecewa dengan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.
Akulah gadis yang pernah melukai perasaanmu dan rasanya tak akan pantas jika aku masih mengharapkan doa darimu. Karena bagaimanapun aku menyesalinnya, aku tetap tidak akan bisa memperbaiki luka seseorang, termasuk luka yang pernah aku buat untukmu.
Kini untuk kesekian kalinya, senja kembali mendengarkan ceritaku. Aku selalu mengatakan padanya bahwa aku iri terhadap orang yang mampu dengan mudah mengungkapkan perasaannya kepada orang yang dicintainnya. Aku pun juga selalu mengatakan pada senja kenapa aku tak pernah memiliki keberanian seperti itu dan selalu memilih menyembunyikan perasaanku. Mungkin jika dulu aku tak sebodoh itu dan memiliki keberanian untuk menahanmu, aku pasti tak secepat itu kehilanganmu.
Kebersamaan kita yang terlalu singkat, terkadang membuatku sering tak percaya bahwa aku pernah benar-benar memiliki dan kehilanganmu. Takdir itu terlalu sebentar, bahkan aku belum sempat membahagiakanmu. Kini… aku masih menjadi pecundang yang tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan rindu dan memilih bersembunyi dibalik benci yang kuciptakan sendiri. semoga kelak suatu saat nanti senja memberitahumu, bahwa aku tak pernah benar-benar membencimu, bahwa aku tak pernah benar-benar ingin kau pergi dan menjauhiku.

Mhey

Senin, 15 Desember 2014

Harapan Senja


Harapan Senja

Ketika jingga perlahan menjadi gulita
Namamu tertata pada bait doa penghujung senja
Terukir diantara sujudku kepada-Nya…
Dalam alunan dzikir yang bersahaja

Entah berapa senja lagi aku harus menunggumu tiba
Hingga takdir mempertemukan kita
Untuk dapat bersama menikmati sisa usia

Duhai patahan rusukku yang jauh di sana…
Semoga kau mendengarnya
Bahwa aku menunggumu dalam mihrab cinta

Bumi Kartini, Oktober 2014
Meilina Kumala Hadi


Minggu, 07 September 2014

Sajakku Patah



Sajakku Patah

Sejak kau patahkan penaku saat senja mulai memerah, sejak saat itu aku tak lagi mampu menggoreskan puisi pada lembar kertasku. Semuanya seolaah berubah menjadi hitam, dan kini setiap senja tiba aku tak mampu melihat aksara pada dinding jingga seperti dulu. Sekuat apapun aku mencoba menggoreskan pena, aku tetap saja tak mampu melahirkan sebait sajak untuk senja. Terkadang aku ingin marah, kenapa kau dulu tega mematahkan pena pemberianmu begitu saja. Apa saat itu kau sebenci itu padaku? Atau karena kau sudah bosan dengan sajak-sajakku? Entahlah, aku tak pernah mempunyai keberanian untuk menanyakan hal itu padamu.
Mulai saat itu, aku tak lagi bisa menulis tentang senja, bahkan terkadang kebencian sedikit meracuni otakku, hingga aku memutuskan untuk menghapus senja dari daftar sajakku dan menggantikannya dengan hujan. Tetapi apa kau tahu? Semua itu tak bertahan lama, karena hujan tak bisa mengajariku tentang arti keikhlasan seperti halnya senja yang selalu mengajariku untuk ikhlas menerima kepergian surya. Meski kini aku tak lagi mampu menuliskan sajak pada dinding-dinding senja, tetap saja aku tak bisa menghapus semua kenangan kita dulu. Puisi-puisi yang kita tulis bersama saat senja, sajak cinta yang kau lantunkan sebelum malam tiba, serta sepotong sajak yang mengakhiri pertemuan kita sebelum akhirnya kau mematahkan penaku. Semua hal itu  sampai sekarang masih kusimpan di sudut meja kamarku, dengan harapan angin akan menerbangkannya dan membawanya pergi dari hidupku tanpa harus aku membuangnya sendiri dengan tanganku. Karna bagaimanapun semua itu adalah bagian dari masa lalu yang tak berhak aku hilangkan, dan hanya Tuhan lah yang berhak melakukannya untukku.

Bumi Kartini, 12 Agustus 2014

Minggu, 17 Agustus 2014

Pentingnya Fungsi Keluarga dalam Mencegah atau Meminimalisir Perilaku Menyimpang pada Anak



Oleh: Meilina Kumala Hadi
Keluarga merupakan salah satu kelompok sosial yang memiliki peran penting dalam masyarakat, keluarga juga memiliki andil yang cukup besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, lewat keluargalah kepribadian seorang anak terbentuk. Beberapa ahli psikologi juga berpendapat bahwa perilaku anak muncul dari bagaimana pola asuh atau  cara orang tua mendidik anaknya sejak dini.
Pada kajian sosiologi, keluarga menjadi media sosialisasi awal terhadap anak untuk mengenal lingkungannya, dalam hal ini orang tua bertugas untuk memberikan perhatian serta mendidik anak untuk memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang baik dan benar. Karena dalam lingkungan keluarga itulah anak pertama kali mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan sehari-hari sebelum pada akhirnya mereka terjun langsung ke dalam masyarakat.
Sebagaimana kita tahu, dalam bermasyarakat tentunya tidak terlepas dari yang namanya konflik sosial ataupun perilaku yang menyimpang. Adapun perilaku menyimpang itu sendiri ialah suatu perilaku yang diekspresikan oleh seseorang atau beberapa orang anggota masyarakat, yang disadari atau tidak telah menyimpang dari norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Perilaku menyimpang ini ditimbulkan karena adanya proses sosialisasi yang tidak sempurna.
Pada dasarnya, sosialisasi yang tidak sempurna bisa terjadi karena beberapa hal, diantaranya adalah kurangnya memahami nilai dan norma yang dipelajari, dan tidak sempurnanya proses sosialisasi dalam keluarga, yang dimaksud dalam hal ini adalah ketika sebuah keluarga tidak lagi lengkap manakala salah satu anggota keluarga atau kedua orang tua sudah meninggal dunia ataupun bercerai. Dengan demikian proses sosialisasi dalam keluarga tersebut akan menjadi tidak sempurna, dengan kata lain keluarga sangatlah berperan penting terhadap sosialisasi anak agar dapat memahami nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Melihat apa yang telah dipaparkan diatas, dapat dikatakan keluarga mempunyai peran vital dalam mencegah atau meminimalisir anak untuk berprilaku menyimpang. Keluarga yang mampu memberikan polaa asuh yang tepat terhadap anak, tentunya sksn menghasilkan proses sosialisasi yang sempurna. Sehingga anak tersebut dapat terhindar dari perilaku menyimpang.
Dalam memberikan pola asuh yang tepat terhadap anak, kebijaksanaan orang tua sangatlah berpengaruh penting. Orang tua diharuskan mampu memilih kebijaksanaan yang akan diterapkan pada anaknya. Ada beberapa kebijaksanaan orang tua yang dianggap paling baik untuk menunjang proses sosialisasi anak, antara lain ialah mengusahakan agar anak selalu dekat dengan orang tuanya, memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar sehingga anak tidak merasa tertekan, memperlakukan anak dengan baik, menasihati anak jika melakukan kesalahan atau kekeliruan, serta menunjukan dan mengarahkan ke jalan yang benar, dan juga tidak mudah menjatuhkan hukuman kepada anak.
Dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut, diharapkan agar anak akan merasa diakui dan tidak merasa terkekang ataupun kurang diperhatikan oleh orang tuanya. Dengan begitu mereka akan mampu menyerap dan memahami nilai serta norma-norma sosial yang diajarkan dalam keluarga tanpa adanya keterpaksaan. Sehinga nantinya dalam masyarakat, mereka tidak mudah melakukan hal-hal yang menyimpang.

Fajar



Angin tak berdenting
Reranting pun tak bergeming
Sedang embun khusyuk berdzikir
Di altar malam yang mulai tersingkir
Subuh kembali patah
Air mata mulai tertumpah
Saat rindu belum sepenuhnya tertuju
Sedang waktu kian melaju
… kemuning fajar, aku masih ingin memelukmu …


2013, kepergian fajar
Mei kh