Kita adalah sepasang aksara yang terlalu engan untuk menjadi rangkaian kata
Kita adalah dua orang yang memilih diam dalam monolog,
Meski saling ingin berdialog
Kita adalah dua orang yang saling sukar untuk menanyakan kabar,
Meski sebenarnya sama-sama ingin mengucap "apa kabar"
Dan Kita adalah dua orang yang saling gengsi untuk mengucap rindu,
Meski sebenarnya mengharap sebuah temu...
Kita, akankan selamanya begitu? Saling membisu, hingga masing-masing menyesali akan hal itu....
(Meilina Kumala Hadi, Bumi Kartini 2016)
Kamis, 07 Desember 2017
Rabu, 06 Desember 2017
Desember dan Penantian
Seminggu belakangan, hujan lebih sering mengguyur kota tempatku tinggal. Hingga 24 jam terasa lebih lama dari biasanya, dan rindu menjadi lebih sering memelukku dari yang semestinya. Kali ini, entah sudah Desember yang keberapa aku menunggu perjumpaan kita.
Seperti tahun-tahun lalu, rasanya aku masih buta arah dalam hal menujumu. Aku sendiri juga masih tak mengerti kenapa semesta tak lekas meng-amin-i perjumpaan kita. Aku yang terlalu jauh, atau karena kamu yang terlalu enggan melangkah? Apapun itu, semoga kita belajar banyak hal dari tunggu yang cukup melelahkan ini. Karena bagaimanapun, bukankah kita memang tak akan pernah bisa memaksa waktu untuk berjalan lebih cepat ataupun lebih lambat. Dan kita juga tak akan bisa memaksa apa-apa yang belum waktunya.
Jadi, teruntuk kamu yang telah dipilih takdir untukku jauh sebelum aku terlahir. Saat jalan menujumu begitu samar dan tempatmu belum ku ketahui. Hanya doa yang akan terus mengalir yang bisa kuberi.(Mee)
Tertanda,
Rusukmu yang belum kau temukan.
Seperti tahun-tahun lalu, rasanya aku masih buta arah dalam hal menujumu. Aku sendiri juga masih tak mengerti kenapa semesta tak lekas meng-amin-i perjumpaan kita. Aku yang terlalu jauh, atau karena kamu yang terlalu enggan melangkah? Apapun itu, semoga kita belajar banyak hal dari tunggu yang cukup melelahkan ini. Karena bagaimanapun, bukankah kita memang tak akan pernah bisa memaksa waktu untuk berjalan lebih cepat ataupun lebih lambat. Dan kita juga tak akan bisa memaksa apa-apa yang belum waktunya.
Jadi, teruntuk kamu yang telah dipilih takdir untukku jauh sebelum aku terlahir. Saat jalan menujumu begitu samar dan tempatmu belum ku ketahui. Hanya doa yang akan terus mengalir yang bisa kuberi.(Mee)
Tertanda,
Rusukmu yang belum kau temukan.
Sabtu, 21 Mei 2016
Seikat Maaf dan Terima Kasihku Untukmu
Teruntuk Kamandanu,
Sebelumnya aku ingin memohon maaf atas kelancangan memulangkanmu kembali pada tulisaku tanpa lebih dulu meminta izin kepadamu. Karena aku terlalu pecundang untuk sekedar menanyaimu kabar atau meminta sebuah perjumpaan. Maka pagi ini aku mengumpulkan segenap keberanian untuk menulis segalanya yang belakangan terasasedikit mengganggu.
Entah terbaca atau tidak olehmu, setidaknya sedikit dari yang memenuhi hati akan aku keluarkan lewat ini. Selain itu, aku juga inginmemohon maaf jika hatimu tidak berkenan akan surat yang aku kirimkan melalui media social. Sebab aku tidak punya merpati yang bisa membawa selembar suratku ke tepi jendela kamarmu, seperti yang ada dalam dongeng-dongeng kerajaan.
Sejak takdir menghadiahiku sebuah pertemuan dengan kamu beberapa bulan yang lalu. Aku belum pernah sedikitpun lupa akan apa yang telah kita lewati bersama. Sebelumnya, dulu aku tidak pernah mengira bahwa kamu akan semelekat ini di ingatanku. Tapi rupanya takdir berkehendak lain, dan membuat segalamu belum bisa digantikan orang lain.
Aku juga tidak pernah menyangka, bahwa kamu adalah orang yang bisa menggantikan dia yang selama ini ada dalam tulisan-tulisanku. Aku juga tidak pernah menyangka bahwa kamu telah mencipta debar di dada kiriku, setelah sebelumnya sempat mati oleh kepergian seseorang yang aku cintai.
Entah sejak kapan debar itu mulai tumbuh pada pertemanan yang baru saja kita rengkuh. Apa pepatah jawa yang mengatakan “witing tresno jalaran soko kulino”itu benar adanya? Apa debar ini hanya sementara karena aku terbawa oleh suasana? Ah. Semua tanda tanya akan pertanyaan itu selalu melahirkan ragu dan ketakutan untuk mengakui apa benar bahwa hatiku telah jatuh kepadamu?. Sedang bersama debar yang mulai ku rasakan itu, ada seklumit ketakutan yang juga kerap memenuhi hatiku. Yakni ketakutan akan harapanku atas kamu yang semakin tumbuh subur di hatiku. Itulah kenapa belakangan ini aku memilih untuk membangun tembok antara aku dankamu.
Andai kamu tahu mas…? Pada punggungmu yang perlahan samar oleh kepergianmu, selalu ada rindu yang jatuh di mataku. Juga selalu ada semoga akan kamu untuk kembali menatapku. Soal kepergianmu itu…rasanya terlalu tidak adil, jika aku sepenuhnya menyalahkanmu. Karena bagaimanapun, aku juga memiliki andil atas keputusan yang akhirnya kamu buat. Tapi, apa gunanya penyesalanku? Toh semua itu tidak akan merubah keadan yang sudah terlanjur aku buat berantakan bukan?
Kamu benar mas, bahwa “waktu tidak akan pernah mundur”. Ya, aku cukup tahu akan hal itu. Karena se-membiru apapun sebuah rindu, jarum jam tidak akan pernah berputar mundur hanya untuk membawaku ke masa lalu. Jadi, biar penyesalanku ini menjadi urusanku sendiri, dan kamu…kamu silahkan jika ingin memilih meneruskan melangkahkan kaki. Sebab aku tidak memiliki hak untuk memintamu jangan pergi.
Dan sebelum surat ini aku akhiri, ada satu hal yang perlu kamu tahu mas.Sekeras apa aku telah mencoba melupa, dan setinggi apa tembok yang sedang berusaha kucipta, segalamu masih sanggat lekat di kepala.
Sekali lagi aku ingin memohon maaf atas aku yang tak pandai melupa. dan terima kasih sudah pernah hadir dan menyuguhiku bahagia.
Bumi Kartini, 21 Mei 2016.
Meilina Kumala Hadi.
Rabu, 25 Februari 2015
Detak Retak
Detak
Retak
Bersama
hujan pagi ini, aku kembali menyeduh kenangan. Menikmati tiap aromanya yang
hambar, serupa rindu tanpa temu. Kini diantara gemercik hujan, aku melihat kembali
lorong sepi tempatmu mengucap perpisahan, hingga angin ikut menyanyikan simponi
kehilangan dan pada akhirnya air mata ikut bertepuk tangan. Lihatlah, aku masih
menjadi pecundang yang tak mampu menolak saat kenangan kembali datang.
Aku
menggerti bahwa kehilangan sama sekali tak mengajariku tentang melupakan, karena
Ia hanya membawa detak retak yang melekat tanpa sekat. Maka itulah kenapa aku
memilih waktu untuk merapikan apa yang telah diberantakan oleh perpisahan.
Meski waktu tidak bisa menyembuhkan, tapi setidaknya waktu mampu merapikan luka
yang berantakan. Dan aku percaya setiap takdir memiliki alasan, meski hanya
pemberi takdir yang tahu pasti apa alasan di balik takdir yang harus aku
jalankan.
Saat ini mungkin Tuhan sedang mengajariku
untuk memaafkan, setelah dulu kau membuat separuh hatiku kehilangan detak dan
menjadi retak. Meski terkadang masih terasa ngilu saat detak retak itu
bercampur dengan rindu, tapi aku akan berusaha mengais maaf untukmu. Karena
senja selalu mengajarkan padaku tentang menerima perpisahan di setiap
pertemuan.
Kini
tepat dua tahun setelah kehilangan kita dekap, kau kembali mengetuk pintu
rumahku yang masih terasa pengap. Entah harus bahagia atau bersedih, saat ini
aku sama sekali tidak mengerti harus memberi perintah apa kepada perasaanku
sendiri. Setelah kau pergi tanpa melihat ke arahku, haruskah kini aku
mengucapkan selamat datang dan menyambutmu? Entahlah, bahkan untuk menyuruhmu
masuk atau sekedar mengusirmu aku tak mampu melakukan itu. Aku terlalu takut
jika kau kembali memberantakkan luka yang telah berusaha untuk aku rapikan.
Mungkin memang benar kau serupa senja untukku, yang datang dengan penuh cahaya
indah dan pergi dengan meninggalkan malam yang gelap.
di Senja yang ke-Sekian
di Senja yang
ke-Sekian
Mungkin
aksaraku hampir habis untuk bercerita kepada senja tentang kepergianmu, tapi
sebelum itu terjadi, biarlah aku terus menumpahkan aksaraku pada dinding jingga
setiap harinya. Aku tahu semua itu tidak akan pernah bisa mengembalikanmu, tapi
setidaknya aku mampu merasakan kehadiranmu lewat bait-bait puisiku.
Bagiku,
senja adalah jalan pulang rindu. Dimana kita bisa merapalkan doa-doa kita di langit
yang sama. Dan aku harap kau masih senantiasa mendoakan gadis yang dulu pernah
menemanimu meski hanya satu purnama. Keinginanku itu mungkin terlalu
berlebihan, karena bagaimanapun kau juga manusia yang memiliki perasaan kecewa
dengan apa yang pernah terjadi diantara kita dulu.
Akulah
gadis yang pernah melukai perasaanmu dan rasanya tak akan pantas jika aku masih
mengharapkan doa darimu. Karena bagaimanapun aku menyesalinnya, aku tetap tidak
akan bisa memperbaiki luka seseorang, termasuk luka yang pernah aku buat
untukmu.
Kini
untuk kesekian kalinya, senja kembali mendengarkan ceritaku. Aku selalu
mengatakan padanya bahwa aku iri terhadap orang yang mampu dengan mudah
mengungkapkan perasaannya kepada orang yang dicintainnya. Aku pun juga selalu
mengatakan pada senja kenapa aku tak pernah memiliki keberanian seperti itu dan
selalu memilih menyembunyikan perasaanku. Mungkin jika dulu aku tak sebodoh itu
dan memiliki keberanian untuk menahanmu, aku pasti tak secepat itu
kehilanganmu.
Kebersamaan
kita yang terlalu singkat, terkadang membuatku sering tak percaya bahwa aku
pernah benar-benar memiliki dan kehilanganmu. Takdir itu terlalu sebentar,
bahkan aku belum sempat membahagiakanmu. Kini… aku masih menjadi pecundang yang
tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan rindu dan memilih bersembunyi
dibalik benci yang kuciptakan sendiri. semoga kelak suatu saat nanti senja
memberitahumu, bahwa aku tak pernah benar-benar membencimu, bahwa aku tak pernah
benar-benar ingin kau pergi dan menjauhiku.
Mhey
Senin, 15 Desember 2014
Harapan Senja
Harapan
Senja
Namamu tertata pada bait doa penghujung senja
Terukir diantara sujudku kepada-Nya…
Dalam alunan dzikir yang bersahaja
Entah berapa senja lagi aku harus menunggumu tiba
Hingga takdir mempertemukan kita
Untuk dapat bersama menikmati sisa usia
Duhai patahan rusukku yang jauh di sana…
Semoga kau mendengarnya
Bahwa aku menunggumu dalam mihrab cinta
Bumi Kartini, Oktober 2014
Meilina Kumala Hadi
Meilina Kumala Hadi
Minggu, 07 September 2014
Sajakku Patah
Sajakku
Patah
Sejak
kau patahkan penaku saat senja mulai memerah, sejak saat itu aku tak lagi mampu
menggoreskan puisi pada lembar kertasku. Semuanya seolaah berubah menjadi
hitam, dan kini setiap senja tiba aku tak mampu melihat aksara pada dinding jingga
seperti dulu. Sekuat apapun aku mencoba menggoreskan pena, aku tetap saja tak
mampu melahirkan sebait sajak untuk senja. Terkadang aku ingin marah, kenapa
kau dulu tega mematahkan pena pemberianmu begitu saja. Apa saat itu kau sebenci
itu padaku? Atau karena kau sudah bosan dengan sajak-sajakku? Entahlah, aku tak
pernah mempunyai keberanian untuk menanyakan hal itu padamu.
Mulai
saat itu, aku tak lagi bisa menulis tentang senja, bahkan terkadang kebencian
sedikit meracuni otakku, hingga aku memutuskan untuk menghapus senja dari
daftar sajakku dan menggantikannya dengan hujan. Tetapi apa kau tahu? Semua itu
tak bertahan lama, karena hujan tak bisa mengajariku tentang arti keikhlasan
seperti halnya senja yang selalu mengajariku untuk ikhlas menerima kepergian
surya. Meski kini aku tak lagi mampu menuliskan sajak pada dinding-dinding
senja, tetap saja aku tak bisa menghapus semua kenangan kita dulu. Puisi-puisi
yang kita tulis bersama saat senja, sajak cinta yang kau lantunkan sebelum
malam tiba, serta sepotong sajak yang mengakhiri pertemuan kita sebelum akhirnya
kau mematahkan penaku. Semua hal itu sampai sekarang masih kusimpan di sudut meja
kamarku, dengan harapan angin akan menerbangkannya dan membawanya pergi dari
hidupku tanpa harus aku membuangnya sendiri dengan tanganku. Karna bagaimanapun
semua itu adalah bagian dari masa lalu yang tak berhak aku hilangkan, dan hanya
Tuhan lah yang berhak melakukannya untukku.
Bumi Kartini, 12 Agustus 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
